Pelestarianbudaya adalah upaya untuk mempertahankan nilai-nilai seni budaya, nilai tradisional dengan mengembangkan perwujudan yang bersifat dinamis, luwes, dan selektif, serta menyesuaikan dengan situasi dan kondisi yang selalu berubah dan berkembang. Koleksitersebut adalah hasil penelitian yang pernah dilakukan atau sedang dilakukan penelitian. Pengakuan tersebut membuktikan bahwa Indonesia memiliki warisan budaya yang tidak kalah nilainya dengan kebudayaan bangsa-bangsa lain di dunia". Berbagai upaya untuk melestarikan Cagar Budaya telah, sedang, dan akan dilakukan" 3 Pelestarian Cagar Budaya Pelestarian adalah upaya dinamis untuk mempertahankan keberadaan Cagar Budaya dan nilainya dengan cara melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkannya. Ruang lingkup pelestarian bangunan cagar budaya yaitu perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan2 2 Pergub DI Yogyakarta No. 62 Tahun 2013 Tentang Pelestarian Cagar Budaya ArsipHarian Kompas pada 3 Oktober 2009 menyebutkan, dari 76 seni dan budaya warisan dunia yang diakui UNESCO saat itu, batik adalah satu-satunya yang berasal dari Indonesia. Adapun Tiongkok ketika itu menyumbangkan 21 dan Jepang menyumbangkan 13 warisan. Sebagai penghargaan terhadap batik sebagai warisan budaya kala itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta seluruh masyarakat Makadari itu mengingat pentingnya hal tersebut, Kepala Dinas Kebudayaan Drs.Gede Komang,M.Si berupaya membuat sebuah program kegiatan dalam upaya pelestarian kebudayaan di Bali Utara. Adapun program yang dimaksud adalah pelaksanakan pagelaran seni yang dilaksankan rutin setiap hari Jumat di Wantilan Sasana Budaya Singaraja. Pagelaran rutin ini Berbagaiupaya yang dilakukan oleh instansi yang bertanggung jawab, dalam hal ini Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3-Jambi) adalah dilakukan tindakan konservasi secara periodik. Setiap periode waktu tertentu situs-situs tersebut diberi perlakuan perawatan yang meliputi pembersihan, treatment dengan bahan kimia jika perlu, dan dibenahi 9a6ac. Akhir April kemarin, publik dihebohkan dengan kasus tembok bersejarah peninggalan Dinasti Mataram Kasunanan Kartasura yang dirusak oleh warga pembeli tanah di wilayah tersebut. Hal yang perlu digarisbawahi adalah situs bersejarah tersebut nyatanya sedang dalam proses pendaftaran Objek Diduga Cagar Budaya. Ironisnya, berita mengenai perusakan situs bersejarah tersebut naik ke publik pada 23 April, beberapa hari saja setelah peringatan Hari Warisan Dunia World Heritage Day. Hari Warisan Dunia sendiri bertujuan untuk memperkenalkan kekayaan warisan budaya pada masyarakat dunia, sekaligus juga sebagai upaya menyadarkan masyarakat dunia akan pentingnya upaya pelestarian bergerak lebih jauh, perlu diketahui bahwa warisan budaya adalah hal berharga yang harus dijaga kelestariannya. Semua elemen, mulai dari tokoh-tokoh penting, kreator konten, sampai dengan pemerintah memiliki perannya masing-masing dalam upaya pelestarian budaya. Budaya dan warisan budaya sendiri, meskipun sekilas sama, tetapi memiliki makna yang berbeda. Kita perlu mengetahui perbedaan budaya dan warisan budaya terlebih dahulu sebelum memahami urgensi pelestarian warisan budaya itu sendiri. Lantas, apa perbedaan budaya dan warisan budaya?Budaya memiliki makna yang sangat luas, tetapi secara umum, budaya itu sendiri bisa diartikan sebagai gaya hidup yang diwariskan secara turun-temurun dalam suatu kelompok masyarakat. Sementara itu, suatu tradisi yang dianggap unik dan merupakan hasil dari suatu pemikiran yang baik bisa dianggap sebagai warisan budaya. Warisan budaya sendiri bisa berupa warisan budaya benda–yang bisa diindra, seperti batik atau kitab-kitab keagamaan– dan warisan budaya tak benda, seperti praktik dan seni tradisi. Warisan budaya yang dilahirkan dalam sebuah masyarakat bisa menjadi warisan budaya nasional, bahkan menjadi warisan dunia yang diakui oleh UNESCO United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization, lembaga khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berfokus pada perlindungan situs-situs sejarah dan pelestarian budaya dan warisan budaya sendiri memerlukan, selain keterlibatan masyarakat umum, pemerintah juga memiliki porsi besar dalam tugas besar ini. Sejauh apapun masyarakat berusaha keras untuk mempertahankan kelestarian budaya dan warisannya, upaya itu tidak akan berbuah maksimal jika tidak didukung pemerintah. Begitupun sebaliknya, pemerintah juga tidak bisa melakukan program pelestarian budaya jika masyarakat enggan untuk melestarikan budaya itu Pelestarian Warisan Budaya Antara Tugas Masyarakat dan PemerintahSuara Mahasiswa UI berhasil mewawancarai Syahrial, dosen Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, terkait tugas pemerintah terhadap upaya pelestarian budaya. Menurutnya, warisan budaya beserta upaya-upaya pelestariannya bukan hanya tugas pemerintah, melainkan juga masyarakat. Hal ini disebabkan masyarakat justru memiliki kunci dalam upaya pelestarian budaya karena berada dalam suatu kelompok di mana budaya itu berkembang.“Kebudayaan suatu masyarakat tidak akan hidup jika tidak didukung oleh masyarakatnya. Kesenian tradisi yang berlaku dan hidup di suatu daerah akan mati kalau masyarakatnya meninggalkan budaya tersebut, walaupun pemerintah mau untuk melestarikan. Jadi sebenarnya, masalahnya terletak pada masyarakat pendukung budaya itu, mereka mau melestarikan atau tidak?” tutur Syahrial, ada dua faktor penentu yang membuat upaya pelestarian budaya berjalan dengan baik. Faktor pertama adalah faktor dari pemerintah berupa dukungan kebijakan, program-program, dan sokongan dana untuk upaya pelestarian budaya. Faktor kedua adalah dari masyarakat itu sendiri, apakah keinginan masyarakat cukup kuat untuk melestarikan budayanya?Hal ini yang kemudian menjadi tantangan yang cukup berat bagi kita semua. Beban tersebut ada pada perubahan di masyarakat. Manusia pada dasarnya adalah makhluk dinamis yang menciptakan perubahan zaman. Perubahan yang dimaksud dalam hal ini adalah proses masyarakat untuk menjadi modern. Masyarakat kita yang tadinya adalah masyarakat tradisional, lambat laun berubah menjadi masyarakat modern yang mengikuti perubahan zaman dan tuntutan pekerjaan.“Kita semua berproses menjadi masyarakat modern yang mengandalkan rasio. Akibatnya apa? seni tradisi kemudian menjadi tidak praktis, tidak membuat kehidupan menjadi lebih mudah. Misalnya, dulu ada pertunjukan wayang semalam suntuk, kalau sekarang tidak akan ada yang menonton lagi karena keesokan harinya kita harus bangun pagi untuk bekerja,” jelas Syahrial, “siklus itu akan terus berlanjut. Masyarakat modern terfokus pada waktu, berbeda dengan masyarakat tradisional yang lebih cair, dekat dengan alam, dan menghargai budaya,” tantangan yang berat inilah, budaya kemudian dianggap sebagai sesuatu yang tidak efisien dan hanya bagian dari cerita masa lalu oleh sebagian masyarakat. Ditambah lagi, alokasi dana yang disediakan tiap pemerintah daerah untuk upaya pelestarian budaya biasanya tergolong kecil. Kenyataan ini juga menjadi salah satu tantangan lain untuk perkembangan budaya di suatu masyarakat daerah. Hal ini kemudian berdampak pada banyak sekali seni tradisi yang musnah dan hilang, karena tidak lagi didukung masyarakat dan pemerintah. Untungnya, masih ada sejumlah kelompok yang masih bertahan melestarikan budaya itu, sehingga tradisi-tradisi tersebut masih dapat ditemukan di masyarakat itu, pemerintah pusat, walaupun belum maksimal, sudah berupaya untuk melestarikan warisan budaya. Hal ini ditunjukkan dengan diterbitkannya Undang-undang No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang disahkan pada tahun 2017. Undang-undang ini kemudian ditindaklanjuti dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah No. 87 tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan. Selain menetapkan regulasi yang mengatur terkait perlindungan budaya dan warisan budaya, Pemerintah juga menyelenggarakan penganugerahan maestro seni tradisi yang diberikan setahun sekali, ditambah tunjangan hidup bagi maestro-maestro tersebut. Lebih lanjut, Pemerintah juga telah secara rutin mencatat budaya-budaya tradisional yang ada dalam masyarakat. Dilansir dari situs Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi RI, terdapat program berupa pencatatan dan penetapan warisan budaya tak benda WBTB. Program ini dilakukan oleh pemerintah tingkat kabupaten, kota, provinsi, atau lembaga lain di mana pengusulan calon-calon WBTB dilakukan oleh dinas yang membidangi kebudayaan di tingkat provinsi kepada Direktorat Jenderal Kebudayaan untuk kemudian dinilai dan ditetapkan oleh tim begitu, menurut Syahrial, upaya-upaya tersebut perlu terus ditingkatkan. Misalnya pada tingkat daerah, pemerintah di daerah tersebut bisa membuat kebijakan-kebijakan yang menggairahkan kesenian tradisional di daerah masing-masing. Hal ini nantinya akan berdampak terhadap kebanggan warga terhadap tradisi yang ada di daerahnya. Jika hal itu benar-benar tercipta, kita sebagai bangsa Indonesia baru akan merasakan bahwa negara kita ini betul-betul Pelestarian Warisan Budaya Media Sosial Berperan Penting dalam Penyebaran InformasiDi dunia yang sudah beralih menjadi serba digital, meski terpisah ruang dan waktu, masyarakat dapat dengan mudah memperoleh informasi mengenai suatu budaya atau warisan budaya yang lestari pada kelompok masyarakat tertentu dan tersebar di seluruh dunia. Ditambah lagi dengan hadirnya media sosial yang sudah seperti makanan sehari-hari warga dunia, pegiat budaya bisa memanfaatkan keberadaan media sosial dan platform digital lain sebagai salah satu cara untuk memperkenalkan warisan budaya sekaligus mengkampanyekan pentingnya pelestarian warisan budaya kepada khalayak hanya pemerintah, setiap elemen dalam suatu negara memiliki peran masing-masing dalam upaya pelestarian budaya. Masyarakat umum, mulai dari pendidik hingga kreator konten di media sosial juga bisa mengambil bagian dalam upaya pelestarian budaya, tidak terkecuali Belantara Budaya Budaya Indonesia adalah yayasan yang berdiri pada 10 Juni 2013 dan bergerak di bidang kebudayaan. Dalam upaya pelestarian budaya, Belantara Budaya Indonesia memberikan sekolah gratis bagi siapa saja yang ingin belajar dan berkontribusi dalam upaya melestarikan warisan budaya. Founder BBI, Diah Kusumawardani Wiyanti berpendapat bahwa kegiatan pelestarian budaya dimulai dari masing-masing individu.“Jangan ngomongin pemerintahnya dulu deh, ngomongin individunya dulu aja. Yuk bangun dong kesadaran diri sendiri untuk bangga akan budaya Indonesia. Maka dari itu aku berdiri di sini, aku ingin mengingatkan anak Indonesia bahwa kekayaan ini harus dijaga,” ajak tersebut yang akhirnya mendorong Belantara Budaya Indonesia untuk membuat sekolah gratis yang terdiri atas kelas tari dan musik tradisional. Kini, sekolah gratis tersebut sudah tersebar di berbagai yayasan pegiat warisan budaya Nusantara, Belantara Budaya Indonesia tentu memiliki banyak tantangan dalam perjalanan kegiatan pelestarian budayanya. Kekurangan SDM hingga dana adalah tantangan terbesar yang dihadapi oleh Belantara Budaya Indonesia. Meski begitu, Diah selaku Founder Belantara Budaya Indonesia mengaku bahwa kendala-kendala yang dihadapi kemudian terbayar dengan kebanggaan saat melihat anak didiknya bisa bersinar dan tampil di berbagai acara kenegaraan, bahkan mancanegara.“Mereka bisa tampil di luar negeri, bisa tampil di Istana Negara, mereka bangga dengan kebudayaan Indonesia, ini adalah kebahagiaan buat kami Belantara Budaya Indonesia -red. Berarti program yang dibuat di Belantara Budaya Indonesia terbangun dan orang-orang yang diajak nyambung, jadi goals-nya dapet” Ujar itu, media sosial hadir di tengah-tengah kegiatan pelestarian budaya yang dilakukan oleh Belantara Budaya Indonesia. Dengan media sosial, ditambah lagi fakta bahwa generasi saat ini hampir semua memiliki media sosial, Belantara Budaya Indonesia memiliki kesempatan untuk memperluas jangkauan perkenalan pelestarian budaya terhadap generasi muda di Indonesia. Media sosial adalah salah satu opsi gratis untuk berkampanye mengenai kegiatan-kegiatan pelestarian budaya yang dilakukan oleh Belantara Budaya media sosialnya, Belantara Budaya Indonesia melakukan kampanye dan update kegiatan secara rutin, juga memberikan tagar dan mention agar kegiatan yang diunggah di media sosial tersebar luas. Misalnya, pada peringatan hari besar, seperti Hari Kartini dan Hari Kemerdekaan, Belantara Budaya Indonesia membuat acara besar yang melibatkan anak-anak muda yang aktif di media sosial. Lewat unggahan anak-anak muda tersebut, Belantara Budaya Indonesia secara tidak langsung diperkenalkan kepada pengikut masing-masing akun, jangkauan Belantara Budaya Indonesia untuk membangkitkan lagi semangat mencintai budaya Indonesia pun semakin sendiri mengaku bahwa media sosial sangat membantu untuk mempromosikan kekayaan Indonesia. Program-program Belantara Budaya Indonesia yang sangat banyak terbantu dengan hadirnya media sosial. Melalui liputan-liputan yang ditampilkan di platform digital, atau cerita dari mulut ke mulut, gerakan yang dibawa oleh Belantara Budaya Indonesia semakin membesar, meluas, dan pada akhirnya anak Indonesia akan kembali bangga dengan kearifan lokal sebagai identitas bangsa bagi Keberlangsungan Warisan Budaya IndonesiaSebagai penutup, baik Diah atau Syahrial sama-sama menyampaikan harapannya untuk Indonesia. “Kami berharap anak Indonesia kenal dan tidak pernah lupa dengan warisan budaya dan tradisinya, karena kita begitu beragam. Kami juga berharap anak Indonesia mulai menanamkan kebanggaan akan budaya dan tradisinya,” pesan itu, Syahrial berpesan agar selalu menghargai dan berusaha sebisa mungkin melestarikan warisan budaya. Meskipun bukan pelaku, minimal harus memberikan dukungan maksimal terhadap kelompok-kelompok yang sedang berusaha keras mempertahankan kearifan lokal tersebut. “Kita ini asalnya dari kampung dengan budaya masing-masing yang khas. Nenek moyang kita melestarikan budaya tertentu yang menjadi akar kita, jangan sampai dilupakan. Jangan mentang-mentang sudah modern, hal-hal yang berkaitan dengan budaya dan kearifan lokal menjadi tidak penting,” tutup Salma Rihhadatul Aisy', Sekar Arum Ayu WardaniEditor Ninda MaghfiraIlustrasi Brilian KesumanegaraSuara Mahasiswa UI 2022Independen, Lugas, dan Berkualitas! Rejang Lebong, Bengkulu ANTARA - Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Kemendikbudristek memberikan apresiasi upaya pelestarian aksara kaganga milik suku Rejang di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, yang dilakukan kalangan masyarakat setempat. "Kami dari Kemendikbud sangat menyambut baik dan mengapresiasi kegiatan ini, tidak banyak komunitas atau kelompok-kelompok anak muda yang punya inisiatif dan semangat untuk melestarikan warisan budaya," kata Ratna Yunasih Staf Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan YME dan Masyarakat Adat Kemendikbudristek d isela-sela kegiatan pelatihan aksara kaganga di Rejang Lebong, Sabtu. Dia mengatakan, kegiatan yang dilaksanakan oleh pengurus daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara AMAN Rejang Lebong tersebut sebagai upaya untuk melestarikan salah satu warisan budaya mereka agar tidak punah yakni aksara kaganga. Melalui kegiatan yang bertemakan merawat aksara kaganga Rejang ini, kata dia, mereka mencoba untuk mengenalkannya kembali aksara kaganga kepada anak-anak muda serta berupaya melakukan revitalisasi maupun bekerjasama dengan dinas pendidikan dan kebudayaan setempat menguatkan muatan lokal yang terkait dengan aksara kaganga itu. "Kami berharap tindaklanjutnya nanti berjalan sehingga anak-anak muda dan anak-anak di sini mengenal dan juga bisa mulai dari membaca, menulis dan mengartikan tulisan kaganga itu di kehidupan mereka sehari-hari. Kalau secara lisan mereka masih memakai bahasa Rejang tetapi untuk menuliskannya itu yang kurang," terangnya. Baca juga Mendikbud Pelestarian aksara Jawa mutlak dilakukan Sementara itu Pengurus Daerah AMAN Rejang Lebong Khairul Amin mengatakan, kegiatan pelatihan atau workshop merawat aksara kaganga yang mereka laksanakan ini diikuti oleh 40 anak muda yang berasal dari lima desa adat atau kutei di Rejang Lebong yakni Kutei Cawang An, Kayu Manis, Lubuk Kembang, Air Lanang dan Kutei Seguring. "Aksara kaganga ini sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Aksara kaganga ini juga sudah diakui oleh ilmuwan luar negeri sebagai salah satu bahasa tertua yang ada di dunia," kata dia. Menurut dia, pada kegiatan pelatihan yang mereka gelar selama dua hari 10-11 Juni 2023 menampilkan pemateri dari Direktorat KMA Kemendikbudristek, kemudian dari Badan Musyawarah Adat BMA Rejang Lebong dan dari Kantor Bahasa Provinsi Bengkulu, di mana para pesertanya diberikan pengetahuan tentang sejarah suku Rejang dan aksara kaganga, kemudian penyebarannya termasuk sejarah empat marga dalam suku Rejang. "Tujuan kegiatan kita ini untuk melestarikan adat dan budaya suku Rejang. Mereka ini kami berikan pelatihan menulis dan membaca aksara kaganga layaknya pelajaran di sekolah namun metode yang kita gunakan lebih praktis dan mudah dimengerti," demikian Khairul Amin. Baca juga Pelestarian aksara Nusantara perlu dukungan digitalisasi Baca juga Ratusan peserta ikuti Bulan Bahasa Aksara dan Sastra Bali di Badung Baca juga Amrih, pelopor digitalisasi aksara Jawa di YogyakartaPewarta Nur MuhamadEditor Triono Subagyo COPYRIGHT © ANTARA 2023 ï»żGIANYAR- Bali memiliki peranan penting dalam pelestarian warisan budaya dan pusaka leluhur di Tanah Air karena masyarakatnya sejak lama terkenal dengan adat budaya, lingkungan dan sejarah. Ketua BPPI Badan Pelestarian Pusaka Indonesia Hashim Djojohadikusumo menyatakan hal itu usai pembukaan International Conference of National Trusts ICNT ke-17 di Museum Subak, Pantai Masceti Gianyar, Senin 11/9/2017. Hashim mengungkapkan, masalah warisan pusaka yang juga menjadi perhatian dunia selain pelestarian warisan budaya, mencakup hal-hal yang luas seperti landskap, tanah, udara, laut, sungai atau pun dampak negatif dari perubahan iklim yang terjadi saat ini. Hal itu juga sejalan dengan tema yang diangkat dalam konferensi dihadiri “Menjaga budaya dan kelestarian lingkungan hidup”. "Saya kira Bali memiliki peran khusus dalam hal pelestarian warisan budaya dan pusaka nenek moyang karena masyarakatnya terkenal dengan budaya, lingkungan dan sejarah," tegasnya lagi. Menurutnya, tantangan besar ke depan yakni bagaimana seluruh kabupaten/kota di Indonesia dapat menjaga warisan pusaka. Pasalnya, sampai saat ini dari 514 kabupaten/kota baru tiga yang masuk dalam warisan pusaka dunia. Diharapakan, Gianyar bisa menjadi contoh Kota Pusaka di Indonesia lantaran dinilai berhasil dalam menjaga, merawat warisan budaya dan pusaka nenek moyang. “Kita berharap Gianyar bisa menjadi contoh dan teladan bagi 500 Walikota/Bupati dan Gubernur di seluruh Indonesia dalam hal pelestarian warisan nenek moyang,” sambung Hashim. Saat ini baru tiga kota/kabupaten di Indonesia yang tercatat sebagai kota pusaka dunia dari 298 kota di berbagai belahan dunia. Tiga kota/kabupaten yang diakui sebagai kota pusaka yakni Surakarta, Denpasar dan Gianyar. Gianyar sendiri boleh dikatakan menjadi satu-satunya kabupaten yang meraih penghargaan kota pusaka dunia. Sebab pengakuan itu sesungguhnya untuk sebuah kota. Hashim menambahkan Gianyar dipilih menjadi tuan rumah ICNT yang diikuti 300 peserta dari 30 negara itu, karena dinilai mampu menjaga kearifan lokal seperti subak, tarian Bali dan budaya lainnya yang merupakan warisan nenek moyang. Di pihak lain, kepentingan Indonesia dalam ajang ICNT karena dengan penunjukkan Gianyar sebagai penyelenggara konferensi internasional ke-17 ini, bisa belajar dari para tokoh-tokoh internasional yang hadir. "Kita bisa belajar bagaimana cara merawat, menjaga dan melestarikan warisan budaya yang dimiliki daerah lain di dunia,” ujarnya. Dalam kesempatan sama Ketua Panitia Catrini Pratihari Kubontubuh mengatakan persoalan ke depan bukan sebatas kepercayaan sebagai kota pusaka itu melainkan bagaimana bisa menjaga, merawat dan mengimplementasikannya. "Kita berharap Bali khususnya Gianyar bisa terus menjaga budaya dan pusaka untuk menjadi bagian dari solusi dunia dalam melestarikan lingkungan yang berkelanjutan," katanya menegaskan. Ia menambahkan dalam berbagai pertemuan ada usulan agar Bali bisa menjadi World Heritage Island. Hal sama disampaikam Bupati Gianyar AAG Beratha juga berharap ke depan bukan hanya Gianyar tapi seluruh kabupaten di Bali jadi kota pusaka. ICNT ke-17 berlangsung selama lima hari mulai Senin 11/9 hingga 15 September mendatang. Usai pembukaan seluruh delegasi disuguhkan dengan kegiatan budaya adu ayam, permainan layang-layang serta pelepasan tukik di pantai Masceti.rhm Erick Thohir saat perayaan waisak di kawasan Taman Wisata Candi Borobudur. Foto dok. InJourney Menteri BUMN, Erick Thohir memastikan Candi Borobudur akan terus terjaga dari aspek wisata maupun nilai spiritualnya. Melalui PT Aviasi Pariwisata Persero atau InJourney, Borobudur akan menjadi destinasi pariwisata spiritual kelas menghadiri pelepasan lampion pada Festival Purnama di rangkaian perayaan Hari Raya Tri Suci Waisak 2567 BE/2023 di Candi Borobudur, Menteri BUMN itu bilang bahwa pihaknya terus memastikan aset-aset yang dikelola BUMN, termasuk Candi Borobudur, tetap bermanfaat.“Kita ingin menjaga keseimbangan sebagai wisata, tapi yang paling penting adalah spiritualnya,” Thohir pun menyebutkan agar ekosistem dapat dikelola dengan baik, salah satunya melalui BUMN holding pariwisata dan pendukungnya, InJourney.“Saya benar-benar ingin memastikan aset-aset BUMN punya value yang baik. Bagaimana waktu itu kita bentuk InJourney untuk memastikan ini menjadi ekosistem pariwisata yang baik,” tambah sisi lain, InJourney secara konsisten melakukan penataan ulang Candi Borobudur dengan melakukan berbagai terobosan menyiapkan Borobudur sebagai destinasi wisata masterplan yang menyeluruh juga tengah dilakukan oleh InJourney dengan 4 prioritas yaitu menjadikan Candi Borobudur sebagai kawasan konservasi. Kedua, mengembalikan fungsi Candi Borobudur sebagai salah satu pusat tujuan wisata spiritual. Ketiga, menjadikan Candi Borobudur sebagai sarana edukasi warisan budaya. Dan terakhir adalah menjadi penggerak kegiatan ekonomi bagi masyarakat di kawasan sekitar Candi hasil upaya InJourney tersebut di antaranya terbukti dengan lancar dan khusuknya prosesi perayaan Waisak yang dipusatkan di kawasan Taman Wisata Candi Borobudur, Magelang Jawa Sama antara BUMN dan Stakeholders untuk BorobudurDirektur Utama InJourney, Dony Oskaria, mengatakan perayaan tahun ini menjadi momentum menyatukan semangat kolaborasi seluruh stakeholder dan elemen masyarakat dalam mendorong Candi Borobudur menjadi destinasi spiritual umat Buddha seluruh memaparkan perayaan ini terselenggara berkat kerja sama dan dukungan berbagai pihak. Mereka adalah Kementerian BUMN, anak usaha InJourney, PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko TWC, Kementerian Agama, Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Perwakilan Umat Buddha Indonesia, Majelis Agama Buddha Mahanikaya Indonesia, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Pemerintah Daerah Kabupaten Magelang, serta stakeholder terkait lainnya."Ini merupakan pertama kali kolaborasi yang sangat signifikan. Kita harapkan ke depannya kerja sama antara kami dengan saudara-saudara umat Buddha semakin erat, dan kita harapkan di tahun-tahun mendatang lebih maksimal lagi," ungkap bersama anak usahanya TWC membantu seluruh kebutuhan yang diperlukan untuk membantu kelancaran dan keberhasilan perayaan puncak Waisak tahun ini. Salah satunya dengan diberlakukan sistem zonasi atau pemetaan kawasan bagi ini melingkupi kepentingan konservasi, spiritual, edukasi dan komersial. Dengan pembagian zona tersebut, umat Buddha yang beribadah bisa khusyuk dan masyarakat bisa menikmati wisata di Candi Borobudur tanpa mengganggu yang beribadah. Sehingga, semua aktivitas di dalam kawasan Candi Borobudur dapat berlangsung dengan seimbang."Kami banyak sekali melakukan pertemuan dengan saudara-saudara umat Buddha, bagaimana kita menjadikan Borobudur tidak hanya sebagai satu warisan budaya tentunya, tapi kami juga menginginkan ada soul di dalam Candi Borobudur," itu, InJourney dengan dukungan Kementerian BUMN serta stakeholders turut mendukung terwujudnya implementasi sistem Single Authority Management. Hal tersebut sesuai dengan arahan presiden dalam rapat terbatas tentang pariwisata Borobudur pada 14 Juni 2022 lalu untuk mewujudkan pengelolaan yang terintegrasi di kawasan Cagar Budaya.“Ke depan, kami akan mengimplementasikan Single Authority Management agar kedepannya dapat mewujudkan Kawasan Cagar Budaya Candi Borobudur dan Kawasan Cagar Budaya Candi Prambanan dengan mengembangkan unsur-unsur konservasi, spiritual, edukasi dan ekonomi pariwisata di Indonesia.” pungkas ini dibuat oleh kumparan Studio

upaya pelestarian warisan budaya yang sesuai informasi tersebut adalah